Ada Kerinduan yang Dalam Dibalik Sebuah Karya yang Besar

10 Sep 2017

"Terkadang kita ini egois, membuat sesuatu tanpa memperhitungkan dampak yang baik untuk generasi mendatang dengan tameng kekinian"

 

Kerinduan itu tiba-tiba datang 7 tahun silam. Dan saya yakin, semua orang yang lahir di tahun 90-an punya perasaan yang sama bahkan mungkin lebih dari sekedar kerinduan.

 

Siapa yang tidak mengenal Si Unyil? Siapa yang tidak tau Pak Raden?, Pak Ogah dan Pak Ableh? Bahkan sampai detik ini kata-kata "cepek dulu den" masih terngiang di telinga kita, lalu seketika pikiran kita pergi jauh...terbang kembali ke masa kecil yang indah dan penuh warna. 

 

 

 

Satu diantara sepuluh orang dari kita mungkin pernah seperti ini setiap hari  minggu pagi 👇?

Sumber Foto : Internet

 

☝️Atau mungkin semua diantara kita pernah merasakan hal yang sama di minggu pagi seperti ini?

 

Sudahlah... itu masa lalu bukan? Masa yang indah dan penuh warna untuk kita. Ketika itu seluruh anak dari Sabang hingga Merauke merasakan hal yang sama.

 

Sekarang mungkin berbeda masa, waktu dan peradaban, tontonan dan hiburanpun tergantikan dengan kemasan yang sangat beragam, tetapi jujur saja ....

 

 "Terkadang kita ini egois, mengemas tontonan itu tanpa memperhitungkan dampak yang baik untuk generasi mendatang dengan tameng harus kekinian". 

 

Mengobati Kerinduan

 

Menyesali tanpa berbuat sesuatu bukanlah cara dan tidak akan melahirkan solusi. 2010 saya coba mengobati kerinduan itu, minimal untuk saya dan orang-orang di sekitar saya sendiri.

 

Boneka sebesar jari, bukan tanpa alasan mengapa saya buat sebesar ini. Dikarenakan rumah saya yang sangat tidak luas 🙊 alias kesempitan. 

Memanfaatkan hampir 80 persen barang bekas...

Dus-dus bekas....

Kayu bekas...

 

Tapi dengan semangat baru....

Karena minimnya referensi dan sangat terbatas acuan, modal kami saat itu hanyalah ingatan. Pikiran coba saya terbangkan untuk mengingat setiap apa yang pernah tergambar dan pernah dilihat dimasa silam.

 

 

Ruang Tamu disulap Jadi Studio Dadakan

 

Ini adalah karya amatiran, sangat jauh kalau dibandingkan dengan karya besar yang  Drs. Suyadi (Pak Raden) ciptakan.  Proses pengambilan gambarpun sangat sederhana dengan bantuan alat-alat seadanya.

 

Film si Unyil pada masa itu, syarat dengan muatan pendidikan. Kemasan yang dibuatpun menggambarkan realita kehidupan nyata di Indonesia, khususnya di daerah pedesaan.

 

 

 

 

 

 

 

Proses yang Lumayan Lama

 

Karena pembuatannya memanfaatkan waktu luang sepulang atau hari libur kantor, proses pengambilan gambarpun memakan waktu yang cukup lama. Tidak ada target waktu yang penting jadi saja.

 

Disela itupun, saya bawa dan perlihatkan semua karakter-karakter yang nanti berperan di dalam film kepada anak-anak yang mungkin tidak atau baru mengenalnya. 

Kesan pertama, terlihat rasa suka dan gembira di wajah mereka. Respon baik mereka menambah semangat untuk kami.

 

Januari 2011, berkat dukungan rekan-rekan akhirnya film sederhana inipun selesai dibuat. 

 

Belum satu hari ada di Youtube sudah ditonton banyak orang dan mendapat respon yang luar biasa. Terbukti sudah....bukan filmnya yang mungkin menarik bagi mereka, tapi kerinduan akan karya yang pernah besar bisa kembali disaksikan dengan kemasan yang sangat jauh dari sempurna. 

 

Video Full Serial Boneka si Unyil - Ayam Pak Raden (2011)

 

Video Serial Boneka si Unyil - Ayam Pak Raden (2011) - Bagian 1

 

Video Serial Boneka si Unyil - Ayam Pak Raden (2011) - Bagian 2

 

Video Serial Boneka si Unyil - Ayam Pak Raden (2011) - Bagian 3

 

 

Memang tidak semua penonton memberikan respon positif, ada beberapa yang menuliskan argumen-argumen "kurang positif", ada celaan, ada ejekan, bahkan ada komentar dua negara yang kala itu lagi panas-panasan. 

 

Semua kami terima dengan lapang, kami jadikan komentar tersebut  sebagai masukan yang membangun untuk kami dan bagi creator lain untuk bisa membuat karya yang lebih baik lagi ke depan.

 

☝️Foto ini... foto yang sangat spesial bagi saya khususnya, terlebih bagi kami, seluruh sebagai creator yang terlibat dalam proses pembuatannya. Terima kasih Pak Raden.

 

Tidak ada salahnya kita jauh melangkah, mengejar kesuksesan negara lain yang nyata sudah lebih mapan dari kita. Akan tetapi, unsur-unsur kearifan lokal seyogyanya tetap harus kita kemas dengan apik, jangan hanya jadi sisipan, kalau perlu lebih di kedepankan.

 

Serial boneka apapun bentuknya (tangan, jari), tidak bisa dibandingkan/ ditandingkan dengan serial animasi 3 Dimensi seperti yang sedang ramai sekarang ini. Di Jepang, kedua media ini masing-masing memiliki pasar berbeda tetapi dengan tingkat kebutuhan pasar yang sama. 

 

Semoga karya-karya Pak Raden yang sudah membuat indah masa kecil kami tidak berhenti sampai disini. Semoga sumbangan karya besar beliau mendapat balasan berlimpah dari Allah, jadi amalan yang tidak akan pernah berhenti .

 

Dan semoga semakin banyak lagi kreator-kreator tanah air yang bisa menyambung perjuangan ini, melahirkan karya-karya yang bermanfaat, bisa mengemas, menghadirkan tontonan sebagai tuntunan dengan membawa dan menanamkan unsur-unsur kearifan lokal.

 

Amiin.

Please reload

Our Recent Posts

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload