Proses,  Bekal dan Mimpi yang Panjang

5 Sep 2017

Harapan saya... apa yang sudah  dilakukan ini mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat baru bagi generasi-generasi muda untuk membuat lebih banyak lagi karya yang bisa memberikan manfaat nyata.

Foto ini mengingatkan saya tentang awal perjalanan saya di dunia perangklungan. 1998, 19 tahun lalu perjalanan itu dimuai. 

Dan ketika melihat foto ini (2011), sadar...selama itu, saya bermimpi dengan waktu yang sangat panjang. Apa mimpi saya saat itu? Saya mulai dari cerita singkat dimasa silam.

 

Angklung Membuat Saya Penasaran

 

Pertama kali memegang alat musik (Angklung) ini, saya hanya menggelengkan kepala sambil terus bertanya dan penasaranMenggelengkan kepala karena salut dan bangga, betapa hebatnya orang jaman dulu bisa membuat alat sederhana dengan bunyi yang sangat luar biasa.  Rasa penasaran pun hanya bisa saya ungkap dengan satu pertanyaan ....“kok bisa?”.

 

 

Dari Panggung ke Panggung Pementasan

 

1998-2004 entah berapa panggung pementasan yang sudah kami getarkan. Tidak cukup kuat ingatan saya untuk mengingat itu semua. Yang jelas, ada banyak pelajaran dan bekal yang semakin hari semakin membuat penasaran.

 

“Kok bisa?” Alat musik sederhana dengan bunyi yang luar biasa ini bisa memberikan manfaat untuk banyak orang?

 

Merasa tidak cukup dengan hanya menjadi pemain Angklung, sayapun mencoba belajar keras untuk bisa tampil di depan ...memimpin pasukan. Karena mungkin ini salah satu bekal saya untuk “mewujudkan mimpi” itu. 

 

Ternyata...Tidak semudah yang dibayangkan, menjadi pelatih Angklung tidak cukup dengan modal keberanian dan bisa berdiri memimpin pasukan. Nyatanya, ada banyak ilmu-ilmu lain yang harus di pelajari dalam waktu yang bersamaan. 

 

🙌 “angkat tangan” saya tidak sanggup untuk menjadi pelatih profesional. Hanya cukup tahu dan prosesnya tidak semudah yang saya bayangkan. 

 

Tetapi, pengalaman ini cukup menambah  bekal saya untuk bisa mewujudkan mimpi itu. 

 

Mimpi Saya

 

Mumpung mimpi tidak dilarang, saya terus bermimpi sampai sekarang. Saya yakin, seorang Pak Daeng Soetigna (pencipta Angklung) pun punya impian yang sama bahkan mungkin lebih. Terbukti, sampai detik ini karyanya bisa memberikan banyak manfaat untuk banyak orang. 

 

Membuat sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang” itu mimpi muluk saya.

 

 

Maaf, tentunya dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Keterbatasan itu justru saya jadikan sebagai satu modal utama.

 

2010..Bermodal perangkat sederhana dengan keterbatasan pengetahuan yang saya punya

 

Angklung adalah alat musik yang tidak bisa dimainkan sendirian, butuh banyak orang sampai bisa menghasilkan bunyi dan bisa membawakan lagu-lagu yang menawan.  

 

Sama halnya dengan yang coba saya ciptakan, butuh banyak orang dengan berbagai bidang keilmuan mereka, yang akan coba saya satukan.

 

Apakah ini bisa memberikan manfaat untuk banyak orang? tidak pasti, tetapi tetap....saya punya keyakinan.

 

Tidak semua orang bisa mencoba alat musik Angklung sekalipun orang Jawa Barat sendiri, tempat dimana alat musik ini pertama kali diciptakan. Apalagi untuk orang-orang yang memang sedang/tinggal jauh di luar negeri.

 

Itulah yang menjadi impian muluk saya saat itu. Membuat angklung hadir dalam dimensi lain, tanpa menghilangkan kaidah-kaidah/ cara memainkan alat musik aslinya. Tetap harus digoyang/digetarkan walaupun berbeda dimensi.

 

Bertepatan dengan dikukuhkannya Angklung sebagai warisan Budaya oleh UNESCO, aplikasi berbasis iOS app yang saya namakan iAngklung versi 1.0 saya luncurkan untuk perangkat Apple (iphone) dan serentak bisa di download di seluruh negara saat itu.

 

iAngklung bisa menjadi alat alternatif untuk media pembelajaran di kelas-kelas. 

Aplikasi ini dilengkapi dengan Kalkulator Angklung, sebuah halaman aplikasi yang bisa memberikan opsi cepat dan mudah untuk memilih nada dari masing-masing nomor angklung yang terpilih.

 

Besar Berkat Jasa Pembesar

 

Berbagai kegiatanpun dilakukan oleh pihak-pihak yang membantu membesarkan aplikasi iAngklung sampai akhirnya bisa dikenal.

 

Bandung - Saung angklung Udjo tampil memukau kala manggung di pembukaan GeekFest 2012. Mengandalkan iAngklung, mereka sukses membuat sajian musik yang segar. (Sumber : detik) 

 

iAngklung dimainkan oleh grup Angklung KABUMI Universitas Pendidikan Indonesia dalam kegiatan lomba musik Angklung Padaeng VII 2012 

 

Penghargaan Besar dari Tanah Kelahiran

 

Tidak terlintas sedikitpun dalam benak saya saat itu untuk bisa membesarkan karya. Karena dengan keterbatasan yang saya punya. Semua berkat kawan-kawan hingga pada tahun 2012 sebuah penghargaan berharga dari Gubernur Jawa Barat kami terima .

 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyerahkan hadiah bagi 10 pemenang Anugerah Inovasi Jawa Barat (AIJB) tahun 2012.  

 

 

Penghargaan diberikan sebagai wujud apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepada masyarakat baik perorangan maupun kelompok, karena memberikan karya dan solusi inovatif dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan di Jawa Barat pada bidang : Pendidikan, Kesehatan, Pangan, Energi, Infrastuktur & Lingkungan Hidup, Seni, budaya dan Pariwisata. 

 

Semakin Menambah Beban 

 

Penghargaan yang kami terima tidak lantas hanya cukup membuat kami bahagia, disamping itu  justru memberikan beban yang sangat berat. Beban dalam arti kata bahwa penghargaan itu adalah amanah harus bisa kami pertangung jawabkan.

 

Lagi-lagi beberapa rekan turun tangan dan membantu meringankan beban yang kami rasakan. 

 

Rekor Muri Angklung Digital

 

Dalam kurun waktu 5 tahun, iAngklung sudah mengalami 3 kali pembaruan. Termasuk aplikasi versi terbaru 2.0 yang sekarang beredar di Apple Apps Store dan Google Play.

 

Ketersediaan iAngklung untuk perangkat Android ini bisa terwujud berkat Event yang diadakan oleh Indosat Ooreedo yang bekerja sama dengan Saung Angklung Udjo 20 November 2016 lalu.

 

 

Foto : infobanknews

Presdir dan CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli (kedua kiri), Didampingi Ripy Mangkoesobroto Ripy R.H. Mangkoesoebroto is the Chief Human Resources Officer of Indosat Ooredoo (ketiga kiri) menerima penghargaan dari Senior Manager MURI Awang Rahargo (kanan) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten. Minggu 20 November 2016, HUT ke-49 Indosat Ooredoo dibukukan dalam rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) atas atraksi permainan angklung digital yang dilakukan 3218 peserta. 

Foto : infobanknews 

3218 pemain iAngklung iPhone - Android 

Foto : infobanknews 

 

Melihat reaksi ribuan para pemain, inilah jawaban atas mimpi yang lama saya cita-citakan. Terlepas dari berapa besar manfaat karya ini untuk orang banyak. 

 

 

 

Harapan saya... apa yang sudah  dilakukan ini mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat baru bagi generasi-generasi muda untuk membuat lebih banyak lagi karya yang bisa memberikan manfaat nyata.

 

Inilah sepenggal cerita tentang kekuatan sebuah mimpi, disertai dengan niat dan tekad yang kuat, tentunya dengan kerjasama dari berbagai pihak.

 

Selamat berkarya

Salam

 

 

 

 

 

Please reload

Our Recent Posts

Please reload

Archive

Please reload

Tags

Please reload